Budaya Alternatif

oleh: Rahmat Syehani

Ini mungkin tulisan kedua saya yang terkait dengan budaya. Akhir-akhir ini, karena terkait dengan pekerjaan yang sedang dilakukan, kata budaya sering melekat dalam lintasan pikiran dan ketikan ujung-ujung jari. Banyak program kependidikan di sekolah yang saya urusi yang menggunakan kata atau istilah budaya seperti budaya riset, budaya membaca, budaya sehat, budaya mutu dan lain-lain. Tapi kali ini saya ingin membahas hal yang berbeda, yaitu tentang budaya alternative.

Ide menulis budaya alternative muncul setelah saya membaca tulisan dari Helvi Tiana Rosa dalam tulisan Assalamualaikum, Beijing. Assalamualaikum film bermutu. Membaca tulisan beliau memang mengasyikan, tidak mudah jemu, mengalir indah, menggugah, dan juga inspiratif. Bagi pembaca yang ingin tahu apa yang dibahas, silahkan mengunjungi alamat tersebut.

Meskipun sedang banyak bergaul dengan kata “budaya”, saya bukanlah budayawan, dan saya tidak memiliki keilmuan yang cukup untuk bicara panjang lebar tentang konsep dan pengertian budaya. Kalaulah lebih dekat mungkin lebih pantas disebut dengan istilah pemerhati budaya. Dan karena saya suka memperhatikan budaya, maka kemudian lahirlah ketertarikan untuk sedikit nimbrung dalam hingar bingar tulisan tentang ini.

 

Budaya Alternative di bidang kesusastraan dan film

Ada sebagian orang yang sering mengeluhkan tentang rusaknya sebagian nilai-nilai ketimuran ditengah-tengah masyarakat kita. Sebagian yang lain mengkhawatirkan mulai menjauhnya para remaja dari standar kehidupan Islami yang sesuai dengan persepsinya. Bagi yang suka mengeluh maupun mengkhawatirkan fenomena yang ada dimasyarakat, saya mengajak hentikan kebiasaan mengeluh tersebut. Hentikan juga kebiasaan mencari pengikut dengan cara menakut-nakuti mereka melalui penyebaran rasa takut yang dimiliki. Marilah kita sama-sama belajar dari para pejuang budaya alternative. Mereka merasakan dan melihat adanya ketimpangan di masyarakat, tetapi yang dilakukan bukan menyebarluaskan ketakutan dan kehawatiran. Yang mereka lakukan adalah bekerja dalam sunyi untuk kemudian terus menerus bergerak menawarkan counterpart dari yang dikhawatirkannya. Sebutlah misalnya gerakan Forum Lingkar Pena (FLP).

Ditengah merajalelanya novel-novel picisan, teman-teman yang bergabung dalam FLP bekerja menawarkan konsep kesusastraan yang elegan dengan tetap berpegang pada batasan-batasan syar’i dan tentu saja batasan ketimuran. Maka lahirlah serangkaian cerpen dan novel Islami. Sebutlah misalnya Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvi Tiana Rosa, Ketika CInta Bertasbih dari Habiburrahman EL Shiraz, dan Assalamualaikum, dan Beijing novel fenomenal dari Asma Nadia. Serta ratusan karya lainnya.

Budaya alternative yang mereka tawarkan tidak berhenti sampai disana. Ditengah carut marutnya perfilman yang murah selera dengan mengumbar syahwat dan film horror yang selain tak masuk logika juga tidak jelas aktingnya, teman-teman sastrawan menawarkan film yang berkualitas. Lihat saja kualitas yang mereka hasilnya dalam alur cerita, pengambilan gambar, serta acting dan musicnya. Ambilah contoh misalnya soundtrack  dari film Ketika CInta Bertasbih, lagu yang dinyanyikan oleh Melly Goeslaw tersebut sangat popular dan sempat menjadi hit.

 

Budaya Alternative di bidang Pendidikan

Para pejuang budaya alternative, bukan saja mereka yang bergerak di dunia kesusastraan dan film. Tetapi ada juga mereka yang bergerak dalam bidang lain, yaitu pendidikan. Bagi anda yang masih ingat sekitar tahun 1980an atau awal 1990an, saat itu bagi kaum muslimin secara nasional hanya ada dua alternative pilihan sekolah. Alternative pertama adalah sekolah nasional, baik negeri maupun swasta, termasuk didalamnya sekolah kejuruan. Dan alternative kedua adalah madrasah, dimana ada yang dikelola oleh Negara, yayasan, maupun ormas keislaman.

Namun kemudian, sekitar tahun 1993 sekelompok orang pemberani memberikan gagasan yang menerobos kebekuan, menawarkan sebuah alternative. Mereka menyadari adanya keterbatasan pilihan, mereka memiliki idealism tentang penyelenggaraan sekolah, dan juga mereka sadar tidak mampu mengubah keadaan di sekolah yang dikelola oleh Negara maupun swasta yang ada. Lalu dengan keberanian dan komitmen yang luar biasa mereka menawarkan satu alternative baru penyelenggaraan model sekolah, yang kini kita kenal dengan sebutan Sekolah Islam Terpadu. Dan Alhamdulillah saat ini di seluruh Indonesia telah berdiri lebih dari 1.400 Sekolah Islam Terpadu, dan sebagian dari mereka berhimpun dalam Jaringan Sekolah Terpadu (JSIT) Indonesia.

Pergerakan dalam menawarkan model penyelenggaraan sekolah, bukan saja pada sekolah biasa, tetapi kini berkembang juga alternative penyelenggaraan pesantren. Bagi orang tua siswa yang ingin memasukan anaknya untuk sekolah berasrama, saat ini memiliki banyak option mulai dari pesantren salaf, pesantren yang dikelola ormas, pesantren tahfidz/pesantren al Quran, maupun Islamic boarding school.

 

Budaya Alternative di bidang lain

Hasil karya para pejuang budaya alternative kini bisa kita saksikan bukan saja pada bidang kesusastraan maupun pendidikan. Budaya alternative pada dunia music bahkan muncul lebih awal dan juga menjadi bagian penting dari gerakan budaya alternative. Nasyid adalah salah satu produk dari budaya alternative di bidang music. Pengaruh kemunculan nasyid saat ini telah berdampak luas dalam dunia music Indonesia. Teman-teman yang bergerak untuk memberikan pilihan baru dunia music islami kini membentuk organisasi yang disebut dengan Asosiasi Nasyid Nusantara, disebut dengan ANN.

Gerakan budaya alternative kini bisa kita saksikan secara luas dan global pada bidang ekonomi. Saat ini system ekonomi syariah telah berkembang dalam ragam bentuk. Mulai dari perbankan syariah, koperasi syariah, gerai busana muslimah, bahkan hingga perawatan kecantikan muslimah. Pergerakan budaya alternative pada bidang ekonomi memiliki peranan yang sangat penting, misalnya saja gerakan ini dapat mendekatkan kaum muslimin pada identitas keislamannya dan meningkatkan peluang bisnis dan kesejahteraan para pelakunya.

Dan jika kita cermati, pergerakan budaya alternative islami telah memasuki seluruh sector kehidupan di masyarakat kita. Jika di tahun 1980an dan awal 1990an hanya beberapa orang yang berjilbab, bahkan sebagian dari mereka ditolak oleh sekolah jika tidak mau melepaskan jilbabnya, namun saat ini penggunaan jilbab sudah menjadi trend. Sehingga jika ada pejabat atau perusahaan yang melarang penggunaan jilbab maka akan mendapatkan reaksi dari sebagian besar masyarakat kita. Karena menggunakan jilbab adalah bagian dari kebebasan menerapkan agama dan keyakinan setiap orang.

Apa yang bisa kita perbuat?

Bagi para pejuang budaya alternative, mengeluh, mengecam, dan mencaci maki bukanlah solusi nyata dalam memperbaiki keadaan. Berbuat dengan melakukan perbaikan secara bersama-sama dan terencana adalah pilihan cerdas. Dan para pejuang menyadari bahwa pilihan yang akan diambil sangat beresiko, tapi mereka yakin bahwa Allah akan selalu bersama orang-orang yang meneguhkan kalimat-Nya dimuka bumi ini. Pertanyaanya penting bagi kita adalah; apa yang bisa kita lakukan agar menjadi bagian dari terbentuknya budaya alternative Islami? Cukupkah dengan mengeluh dan mengecam? Saya kira tidak, maka kini saatnya berbuat!

 

(re-post dari tulisan sebelumnya)

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.