Kedudukan Guru dikaji dari perspektif Islam

Istilah Guru dalam budaya Indonesia seringkali dihubungkan dengan kependekan dari digugu dan ditiru. Artinya Guru harus mampu menjadi teladan bagi seluruh murid-muridnya maupun masyarakat sekitar. Menurut UU Sistem Pendidikan Nasional maupun UU Guru dan Dosen, istilah Guru didefinisikan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dalam konteks pendidikan Islam, setidaknya ada enam istilah yang senada dengan konsep Guru atau pendidik sebagaimana dimaksud oleh UU Guru dan Dosen. Keenam Istilah tersebut adalah ustadz, muallim, murobbi, mursyid, mudarris, dan muaddib (Kosim, 2008).

Istilah Ustadz, dalam kontkes ke Indonesiaan istilah ini merujuk pada guru agama laki-laki. Adapun sebutan Muallim dalam konteks di Indonesia istilah ini dipakai untuk menyebut seorang ahli agama. Sebutan murobbi, ditujukan pada seseorang yang menumbuhkembangkan anak-didik. Istilah lain untuk sebutan Guru yang lain ialah mursyid yang berarti pemberi petunjuk atau nasehat, mudarris  yang memiliki makna seseorang yang menjaga, dan muadib adalah seseorang yang melatih akhlak atau tatakrama.

Dengan demikian, kedudukan Guru dalam konteks pendidikan Islam sangat penting. Seorang Guru adalah orang yang berilmu pengetahuan, senantiasa memberi petunjuk dan nasehat, mengajarkan ilmu pengetahuan, menumbuhkembangkan anak-didiknya, menjaganya sekaligus mendidik akhlaqnya. Maka guru dalam pandangan Islam digambarkan sebagai orang yang berilmu dan berpengetahuan yang sangat luhur kedudukannya disisi Alloh SWT.

Menjadi guru adalah pekerjaan yang sangat mulia, karena guru adalah pewaris pekerjaan Rasulullah SAW untuk mendidik putra-putri kaum muslimin memahami Islam, memiliki akhlaq Islami dan beperilaku dalam naungan Islam. Klaim bahwa guru adalah penerus risalah kenabian bisa dilihat dari dua hal. Pertama, tugas manusia dibumi adalah sebagai khalifah yang akan menjaga dan memelihara bumi sesuai dengan tugas yang telah Allah SWT wahyukan dalam Al Quran. Untuk mengamalkan tugas tersebut maka manusia memerlukan ilmu pengetahuan dan keterampilan, sebagaimana ALLAH SWT memberikan bekalan ilmu pengetahuan kepada Adam AS.

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya…” (Q.S AL Baqarah: 31)

 

Q.S Al Baqarah ayat 31 ini sangat jelas bahwa ALLAH SWT adalah Guru pertama yang mengajarkan Adam AS (manusia) tentang apa yang ada di sekelilingnya. Ayat ini juga mempertegas bahwa mengajarkan ilmu pengetahuan adalah sebuah kebaikan yang bernilai ibadah.

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Rasulullah SAW bersabda

عن عبد االله بن عمرو أن النبى صلى االله عليه وسلم قال بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

Dari Abdullah bin Amr, dia berkata, Nabi saw. Bersabda :Sampaikanlah dan ajaranku walaupun satu ayat. (HR. al-Bukhari)

 

Dengan demikian maka siapapun yang mengajarkan suatu ilmu pengetahuan yang bermanfaat, baik ilmu duniawi maupun ilmu ukhrawi, maka sesuangguhnya dia telah menjadi bagian dari mata rantai ilmu pengetahuan.

Yang kedua, didalam diri seorang Guru kepadanya melekat tugas sebagai muadib, yaitu orang yang memiliki peran mengajarkan adab dan akhlaq Islami. Sedangkan Rasulullah SAW sendiri mengatakan dalam salah satu haditsnya “Sesungguhnya aku diutus ke bumi ini untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”.

Selain sebagai pewaris para nabi, seorang Guru, menurut Rasulullah SAW, senantiasa mendapatkan doa kebaikan dari penduduk langit dan pembutuk bumi, sebagaimana dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda:  

“Sesungguhnya Allah, para malaikat Nya,penduduk langit dan bumi sampai pun semut di sarangnya dan ikan di lautan turut mendoakan kebaikan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (Hadits Abu Umamah Al Bahili riwayat Tirmidzi, di shahihkan oleh Al Albani.)

Lebih lanjut, Al Ghazali, sebagaimana dikutip oleh Ahmad Tafsir (2001): ”Makhluk di atas bumi yang paling utama adalah manusia, bagian manusia yang paling utama adalah hatinya. Seorang guru sibuk menyempurnakan, memperbaiki, membersihkan dan mengarahkannya agar dekat kepada Allah azza wajalla. Maka mengajarkan ilmu merupakan ibadah dan merupakan pemenuhan tugas dengan khalifah Allah. Bahkan merupakan tugas kekhalifahan Allah yang paling utama. Sebab Allah telah membukakan untuk hati seorang alim suatu pengetahuan, sifat-Nya yang paling istimewa. Ia bagaikan gudang bagi benda-benda yang paling berharga. Kemudian ia diberi izin untukmemberikan kepada orang yang membutuhkan. Maka derajat mana yang lebih tinggi dari seorang hamba yang menjadi perantara antara Tuhan dengan makhluk-Nya daam mendekatkan mereka kepada Allah dan menggiring mereka menuju surga tempat peristirahatan abadi.”

 

Semoga bisa menjadi pengingat dan penyemangat kita semua

Depok, 15 July 2016, re-written by Rahmat S Syehani

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.