Mengapa kita perlu menjadi Guru dan Pendidik (educator) professional?

Dalam tulisan sebelumnya telah dijelaskan bahwa posisi seorang Guru maupun pendidik sangat luhur yaitu sebagai penerus risalah kenabian, mata rantai ilmu pengetahuan, agen perwujudan khalifah Allah di muka bumi, sebagai pembentuk hati, dan sebagai pembentuk adab. Selain itu seorang Guru yang pergi mendidik akan di doakan oleh seluruh penduduk langit dan bumi, hingga ikan-ikan dilautan bertasbih untuknya. Namun pertanyaan lain yang kemudian muncul adalah, apakah semua Guru secara serta-merta mendapatkan predikat maupun pahala itu semua? Saya tidak bisa memastikan, namun ada baiknya kita memperhatikan dan menyimak apa yang ALLAH SWT wahyukan di dalam Q.S Al Mulk ayat 2:

 

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

 

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

 

Dalam ayat ini, Allah SWT menyebutkan ahsanu amala, Apa yang dimaksud dengan ahsanu amala?  Dr. Yusuf Qardawi dalam buku Fiqh Awlawiyat menjelaskan tentang “ayyukum ahsanu ‘amala”  berdasarkan riwayat yang disampaikan oleh al Imam Abu ‘Ala al Fudhail bin ‘Iyad :

 

“Abu ‘Ala al-Fudhail bin ‘Iyad telah ditanya tentang amalan yang terbaik di dalam firman Allah (ayyukum ahsanu ‘amala), maka beliau menjawab: ‘Amalan terbaik ialah yang benar-benar ikhlas lagi betul’. Beliau ditanya lagi: ‘Apakah maksud benar-benar ikhlas lagi betul itu?’. Beliau menjelaskan lagi bahwa: ‘Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menerima sesuatu amalan selama tidak ada keikhlasan dan tidak betul. Sekiranya amalan itu betul tetapi (pelakunya) tidak ikhlas, maka tidak dimakbulkan, demikian juga sekiranya (pelakunya) ikhlas, tetapi amalan itu tidak betul, maka tidak juga dimakbulkan. Keikhlasan hendaklah dilakukan semata-mata kerana Allah dan betulnya amalan hendaklah menepati As-Sunnah (Sunnah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam).”

Dari penjelasan tersebut maka setiap amal perlu memiliki dua kategori: ikhlas dan betul (right). Ikhlasnya sebuah amal asalnya dari hati, sedangkan betulnya sebuah amal berasal dari pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Jika amal yang dimaksud adalah amalan ibadah mahdhah, maka kita harus memperhatikan tata cara dan urutan yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW. Misalnya saja, seseorang yang shalat dengan hanya mengharap rahmat Allah SWT semata belumlah cukup. Ia harus memperhatikan tatacara wudhu sebagai syarat sebelum shalat serta tatacara shalatnya itu sendiri. Disini maka orang yang akan beramal yang betul (right) maka harus memiliki dan menguasai ilmunya. Maka orang yang ingin mengetengahkan amalan shalat yang berkualitas harus betul-betul menguasai ilmu tentang segala seuatu yang berhubungan dengan shalat pula.

lalu, bagaimana dengan Seorang Guru yang ingin mendapatkan seluruh pahala kebaikan dan predikat yang dijanjikan? Hal ini tidak bisa lagi disangkal bahwa Guru harus memiliki pengetahuan, menguasainya dan mampu mengamalkan seluruh ilmu yang menjadi prasyarat agar kualias amalnya optimal. Disinilah maka pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang terkait dengan pedagogis dan ilmu bidang studi terkait menjadi niscaya untuk dikuasai dengan baik. Tanpa ilmu dan kemampuan, tidaklah mungkin seseorang melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Contoh dalam dunia pendidikan misalnya seorang Guru bahasa yang mengajar pendidikan kimia. Mungkin guru tersebut bisa mengajarkan apa yang ada dibuku, tetapi apakah cukup hanya membacakan atau menjelaskan ulang apa yang dibaca? bagaimana jika dalam pembelajaran ada siswa yang bertanya lebih jauh, lebih mendasar atau mempertanyakan pengetahuan prasyarat yang tidak ada di buku?

Dalam salah satu kesempatan, saat saya menseleksi calon Guru untuk disekolah yang saya kelola, saya menemukan seseorang yang sangat menguasai ilmu bidang studi yang dimiliki, katakanlah Matematika, namun selama pembelajaran berlangsung tak ada dialog dengan siswa, tidak ada pandangan mata yang tertuju pada audiens, tidak ada upaya melihat kesulitan yang dialami siswa untuk mencerna apa yang sang Guru sampaikan. Apakah Guru yang demikian akan mampu mengetengahkan amal yang betul (right) dan berkualitas optimal? saya pikir kita perlu waktu yang lama agar kualitas amalnya maksimal.

Tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan keterampilan yang menjadi landasan sebuah amal, Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

 

إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (H.R Bukhari)

 

Dengan demikian maka agar pendidik mendapatkan pahala terbaik dari sisi Allah SWT diperlukan keikhlasan,yang disertai kompetensi profesional yang relevan untuk melaksanakan tugas yang diemban. Maka, marilah kita bersegera meningkatkan kualitas diri kita dalam beramal, pastikan secara terus menerus kita meng-update pengetahuan, keterampilan dan sikap yang terkait dengan syarat tertunainya ahsanu amalan. Pastikan kita menguasai ilmu metodologi pengajaran, keterampilan dasar mengajar, psikologi perkembangan, metodologi evaluasi belajar terkini, strategi pembelajaran yang terus menerus terbarukan sesuai dengan karakteristik peserta didik yang semakin kompleks dan masih banyak lagi.

 

Depok, 17 July 2016 (rewrite)

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.