Capaian Visi Pendidikan Kita

Oleh: Rahmat S Syehani

Pendidikan dan proses pertumbuhan adalah dua sisi yang selalu seiring sejalan. Pengetahuan dan keterampilan adalah instrument yang dibutuhkan manusia untuk mengelola dan memakmurkan bumi ini. Sebagaimana Allah SWT menegaskan dalam Al Quran, sebelum penciptaan Adam AS, Allah SWT menegaskan pada para malaikat bahwa Allah akan menciptakan seorang khalifah yang akan memakmurkan bumi. Kemudian setelah penciptaan Adam AS, Allah mengajarkannya tentang apa-apa yang ada di langit dan di bumi (Q.S 2: 30-31). Ini mengindikasikan bahwa ilmu pengetahuan dan keterampilan tentang apa yang ada disekitar manusia sangat perlu dikuasai sebagai prasyarat mutlak pengelolaan bumi ini.

Pentingnya pendidikan juga sangat dirasakan di negeri-negeri barat. John Dewey, seorang filsafat pendidikan Amerika menegaskan bahwa pendidkan haruslah seiring dan sejalan dengan pertumbuhan manusia. Atau dengan bahasa yang lebih sederhana, pendidikan itu adalah pertumbuhan itu sendiri. Kemudian dalam visinya membangun pendidikan Amerika Serikat, Dewey menegaskan bahwa pendidikan adalah prasyarat bagi tegaknya demokrasi. Manusia yang terdidik akan memiliki kemampuan untuk mandiri dan merdeka (Dewey: 1916).

Pentingnya pendidikan juga sangat disadari oleh pendiri bangsa Indonesia. Sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945, para pendiri bangsa ini sudah menegaskan bahwa salah satu tujuan dari kemerdekaan adalah memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan dalam UUD 1945 sebelum di amandemen dalam pasal 31 ditegaskan setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Setelah era reformasi, komitmen terhadap pendidikan semakin dipertegas dengan melakukan penguatan melalui amandemen pasal 31 UUD 1945. Dalam pasal 31 ayat 2 ditegaskan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Dengan merujuk pada UUD 1945 pasal 31 juga, kemudian terbitlah undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003, yang kemudian dikenal dengan UU Sisdiknas tahun 2003.

Kehadiran UU Sisdiknas 2003 merupakan payung hukum dari penerbitan undang-undang lainnya seperti undang-undang Guru dan Dosen. Selain itu, keberadaan UU ini pada awalnya diharapkan mampu mendorong pemerintah Indonesia untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Dalam pertimbangannya, UU sisdiknas harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu pendidikan dan mengarahkan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

Untuk mengimplementasikan UU sisidiknas, pemerintah Indonesia telah melaksanakan serangkaian program dalam rangka pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu pendidikan dan pembaharuan pendidikan secara terencana. Misalnya saja, dalam upaya pemerataan kesempatan pendidikan pemerintah telah mengadakan program peningkatan akses pendidikan meliputi penambahan kelas baru, penambahan sekolah baru, bantuan operasional sekolah, dan penyelenggaraan sekolah satu atap. Untuk penjaminan mutu pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan pemerintah telah menyelenggarakn program sertifikasi guru, standarisasi kurikulum dengan menerapkan kurikulum 2006 disertai kurikulum 2013 yang baru saja digunakan secara terbatas. Masih dalam rangka peningkatan mutu pendidikan nasional pemerintah juga menyelenggarakan berbagai lomba olimpiade mulai dari tingkat kota hingga tingkat provinsi dan nasional.

Program-program peningkatan akses dan pemerataan pendidikan sejauh ini telah menghasilkan kemajuan yang cukup berarti. Berdasarkan data yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan dalam silaturahmi kementrian dengan kepala dinas pendidikan se Indonesia pada tanggal 1 Desember 2014 upaya peningkatan akses dan pemerataan pendidikan telah memberikan hasil yang cukup menggembirakan. Misalnya saja angka partisipasi pendidikan dasar, pada tahun 2000 baru mencapai 92%, namun pada tahun 2007 telah mencapai 95%. Bahkan pada tahun 2012 hampir seluruh siswa usia pendidikan dasar telah berpartisipasi dalam proses pendidikan (Baswedan, 2014).

Adapun program-program yang terkait dengan pembangunan mutu pendidikan, jika dilihat dengan menggunakan data yang diperoleh dari instrument test dalam negeri menunjukan hasil yang menggembirakan. Sebagai gambaran, berdasarkan berita harian online tempo pada tanggal 23 Mei 2013, kelulusan siswa SMA di jawa barat mencapai 99,9%. Demikian juga kelulusan di Jawa Timur yang menunjukan 220.740 siswa yang mengikuti Ujian Nasional, hanya 154 siswa yang tidak lulus. Optimisme tersebut bukan saja tergambar dalam kelulusan, tetapi juga tergambar dalam angka yang diperoleh dalam Ujian Nasional. Berdasarkan data tahun 2012 nilai-rata-rata Ujian Nasional tingkat SMP ialah 7,65, naik 0.09 point dari tahun sebelumnya. Demikian juga nilai rata-rata Ujian Nasional SMA yang mencapai 8,09 pada tahun 2012, naik 0,05 point dari tahun sebelumnya.

Optimisme dari data tersebut ternyata tidak menunjukan kondisi pendidikan Indonesia yang seberannya jika dilihat dengan menggunakan instrument internasional. Misalnya saja dalam laporan The Learning Curve – Pearson tahun 2014 disebutkan berdasarkan index global capaian pendidikan Indoensia berada pada peringkat 40 dari 40 negara yang disurvei dan tidak ada perubahan sejak tahun 2012 (the learning curve, 2014). Data tersebut sejalan dengan hasil pemetaan yang dilakukan oleh TIMSS maupun PIRLS tahun 2011. Berdasarkan pemetaan TIMSS science untuk kelas 8, posisi Indonesia tidak bergerak maju bahkan mundur 21 point jika dibanding tahun 2007.

Sejalan dengan prestasi di bidang sains, capaian siswa Indonesia kelas 8 dalam matematika juga menurun pada tahun 2011 menjadi 386 dengan menduduki peringkat 38 dari 45 negara yang disurvey. Adapun untuk prestasi literasi membaca berdaarkan PIRLS bagi siswa kelas IV pada tahun 2011 lalu, siswa Indonesia mengalami peningkatan sekitar 24 point menjadi 428 dbanding tahun 2006. Namun ternyata kenaikan tersebut tetap memposisikan kualitas kemampuan membaca siswa kelas 4 SD Indonesia jauh dibawah rata-rata internasional bahkan berada dalam posisi 42 dari 45 negara yang disurvey.

 

Data-data di atas ini menunjukan bahwa salah satu visi pendidikan nasional yang tercantum dalam UU 1945 maupun UU Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanahkan agar pembangunan pendidikan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing didunia Internasional belum terwujud. Dengan telah berjalannya UU Sisdiknas selama lebih dari 10 tahun – tetapi masih menempatkan mutu pendidikan Indonesia di peringkat bawah diantara Negara-negara di dunia – mengindikasikan ada permasalahan serius dalam tata kelola pembangunan pendidikan nasional.

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.